Top Social

Wisata Heritage Rumah Bosscha Bandung Selatan

Libur maulid bulan Oktober kemarin seperti angin surga bagi para pekerja seperti saya. Langsunglah saya mengajukan cuti libur untuk mengeksplore tempat di Jawa barat, akhirnya pilihan hati saya jatuh ke Pangalengan, Bandung Selatan. Saya selalu penasaran dengan Bandung selatan, karena dengan sebegitu luasnya daerahnya, tempat wisata yang saya pernah kunjungi hanya sekitar kawah putih Ciwidey, Perkemahan Ranca upas, dan Situ Patengan. Saya yakin dengan wilayah Bandung Selatan yang cukup luas dan tempat nya yang berada di kelilingi pegunungan pasti banyak tempat yang potensial untuk dikunjungi dan di jadikan tempat wisata untuk melepas penat, dan pastinya sepi . Aahh itu yang saya cari (wisata indah dan tidak terlalu ramai pengunjung).

Berangkatlah saya dari Bekasi menuju Pangalengan, jarak yang di tempuh kurang lebih 100km dengan waktu perjalanan ditempuh sekitar 6 Jam. Sebetulnya saya sudah 2 kali ke daerah Pangalengan, yang pertama sengaja mengunjungi situ Cileunca dan gunung Puntang pada tahun 2016, dan saat acara hammock camp di Datar pinus pada tahun 2019 kemarin.

Oia salah satu kebiasaan Saya sebelum pergi mengeksplorasi suatu tempat adalah mencari tahu tempat wisata dari instagram, dan juga membuka google maps untuk tahu tempat wisata yang ada dan belum terlalu terekspose sehingga tidak terlalu ramai. Ada beberapa tempat yang saya list untuk saya kunjungi, salah satunya adalah rumah K.A.R Bosscha.

Kalian sudah pasti tahu dong tentang K.A.R Bosscha? Atau masih belum tahu? Saya ceritain sedikit ya..
Bosscha adalah salah seorang Belanda keturunan Jerman yang lahir pada 15 Mei 1865 dan meninggal pada 26 Nov 1928 pada umur 63 tahun di Malabar, Bandung. 
Beliau merupakan salah satu Raja teh " Koning van de thee" di jawa barat yang cukup terkenal dan merupakan salah satu dari "Preanger Planters" yang di cintai oleh masyarakat priangan, khususnya masyarakat di daerah Malabar, tentu saja karena kebaikan hati dan kepedulian nya terhadap para pribumi. Kalau kalian tahu teropong bintang yang terkenal di lembang, nah itu merupakan salah satu karya Bosscha. Banyak sekali karya-karya Bosscha yang bisa kita jumpai sampai saat ini (bisa di googling ya untuk tau karya peninggalan lainnya). Orang banyak tahu tentang teropong bintang Bosscha di Lembang, tapi sangat disayangkan tidak banyak yang tahu tentang rumah Bosscha, rumah Bosscha ini seolah-olah tersembunyi dan tidak banyak di ketahui oleh orang banyak, karena memang letaknya terpencil dari hiruk pikuk kota Bandung dan berada di tengah-tengah perkebunan teh dan dikelilingi oleh bukit. 

Rumah Bosscha ini bergaya arsitektur eropa, dilengkapi dengan cerobong asap,dengan adanya ornamen batu kali pada bagian bawah tembok luarnya. Fungsi batu kali pada tembok di bangunan belanda atau bangunan tempo dulu adalah agar saat hujan tembok tidak kotor terkena percikan air hujan yang mengenai tanah di luar bangunan tersebut. Rumah ini juga memiliki plafon yang agak rendah, tidak lain tidak bukan agar rumah terasa hangat saat udara diluar rumah sedang hujan atau dingin (maklum saja rumah ini berada di dataran tinggi). Dan yang bikin cantik lagi lantai ruangan nya masih dari kayu guys. Kebayang dong hangatnya rumah Bosscha meskipun berada di tempat sedingin ini..hehe

Rumah ini terbagi dari 3 ruangan utama yang cukup besar yaitu ruang makan,ruang keluarga,dan ruang tamu,sebenarnya ada ruang tidur Bosscha tapi sayangnya saya belum beruntung untuk masuk ke kamar tersebut karena pintunya terkunci. Ada ruang dapur juga di belakang, dan ada ruang bawah tanah,jujur saja saya tidak berani untuk menuju kesana hehe lagipula ruangan bawah tanahnya pun terkunci.
Berikut penampakan ruangan yang ada dirumah Bosscha:
Yang paling menarik perhatian saya adalah adanya piano yang sudah terlihat sangat tua, akan tetapi tuts nya masih berfungsi sangat baik. Ahh rumah ini sungguh sangat indah sekali, sangat terasa unsur vintage nya. Hampir semua furniture dirumah ini masih asli loh dari jaman Bosscha masih hidup. Semoga saja ya rumah yang sudah jadi museum ini masih bisa bertahan dan terawat dengan baik sampai puluhan tahun kedepan.

Untuk halamannya sendiri jangan ditanya luasnya segimana guys.. luaaaaaaaaaaaas banget. Saya pun berandai-andai menjadi Bosscha yang tinggal di tempat ini, saat pagi mengawasi para pekerja teh sambil menyeruput hangatnya teh dari kebun teh sendiri. Dan malam hari bisa menikmati bintang-bintang saat cuaca cerah di dataran tinggi yang tenang ini. Ahh mantabb sekali..
Kalau kamu ingin merasakan gimana rasanya jadi orang belanda/meneer yang tinggal di rumah belanda Jaman dulu coba deh berkunjung kesini. Vibe vintages nya bakalan terasa banget :)

Harga tiket masuk 5.000/orang.

Untuk menuju rumah Bosscha cukup mudah, arahkan saja google map menuju "Malabar Tea Village" dijamin langsung sampai ketujuan. Akses jalan cukup mudah sekali dan medan jalan yang cukup bagus. Klik link berikut untuk menuju lokasi.





Menikmati sejuknya udara pedesaan di Curug Ciangin Subang




Libur lebaran kali ini saya tidak mudik, dan mengingat libur lebaran yang cukup panjang saya pun bingung akan menghabiskan liburan dimanakah kali ini. Karena tiket kereta sudah di pastikan habis dan harga tiket pesawat yang sedang melambung saya memutuskan untuk berlibur ke tempat yang tidak jauh dari tempat saya tinggal, Bekasi. 

Subang, ya kota nanas itu akhirnya menjadi pilihan saya untuk berlibur karena banyak sekali tempat di Subang yang belum banyak saya jamah, (penasaran cyiin untuk explore lebih jauh tentang Subang). Saya pun buka-buka mbah Google, cari informasi kiranya enak kemana ya. Karena Subang terkenal dengan pesona curug nya,saya pun menjadikan Curug sebagai pilihan untuk bersantai ria. 

Berangkatlah Jumat pagi saya dari Bekasi menuju Subang,  melewati jalur Cikarang, Karawang, Purwakarta lanjut ke Subang. Oia saya kesana dengan mengendarai motor. Rindu juga rasanya touring motoran mengingat sudah beberapa bulan ini tidak motoran antar kota hehe. Berangkatlah saya dari bekasi pukul 10.00 wib. Berhubung saya pergi saat momen lebaran jadilah jalur cikampek sangat lengang. Perjalanan ke subang hanya ditempuh dalam 2.5 Jam saja. Oia perjalanan kali ini pun hanya sekali istirahat saja, saat jam makan siang. Itu pun berhenti di kota subang karena ada Rumah makan yang menarik saya untuk berhenti (gimana ga tertarik rumah makannya ramai banget loh) nama Rumah makannya adalah "RM Mang Yeye". Untuk makan di RM Mang Yeye mungkin akan saya bahas di tulisan saya selanjutnya ya. Stay tuned guys!!  Hahaa. 


hidangan yang saya nikmati di RM Mang Yeye

Setelah mengisi perut di RM Mang Yeye saya pun langsung tancap gas menuju "Curug Ciangin" ini. Perjalanan dari Rumah makan masih di tempuh sekitar setengah Jam lagi. 

Tentang Curug Ciangin

Curug ciangin ini terletak di Kp Neglasari, Desa Cibeusi, Ciater-Subang. Menurut warga lokal Ciangin sendiri berarti "Ci yang berarti Air atau curug" dan "Angin yang berarti ya angin" haha. Jadi Ciangin ya artinya curug yang memiliki hembusan angin yang besar. Di lokasi ini terdapat 2 curug atau memiliki 2 tingkat curug. Curug pertama yang akan kita lihat adalah Curug Nangka Bongkok, curug ini memiliki ketinggian sekitar 4m dan kedalaman sekitar 3m. Curug ini terlihat sangat tenang. Akan tetapi sangat tidak disarankan untuk berenang di curug ini. Biasanya apa yang terlihat menenangkan ternyata membahayakan loh haha. Saya tidak tau secara pasti kenapa di curug ini tidak disarankan untuk berenang. Lanjut di sebelah kanan akan ada Curug Ciangin yang airnya merupakan aliran dari curug Nangka Bongkok. Tinggi Curug Ciangin ini sendiri sekitar 9m dan memiliki kedalaman 4-5m. Nah kalau disini kita diperbolehkan untuk berenang kok. Dengan catatan asal jangan sesaat setelah turun hujan. Biasanya setelah turun hujan aliran curug akan sangat deras. Di curug Ciangin ini jg ada penjaga yang akan mengawasi kita saat berenang, dan ada ban juga loh jadi insya Allah aman deh hoho. 

Nah selain curug disini juga ada areal Camp ground. Kalian bisa membawa tenda sendiri atau pun menyewa tenda di lokasi. Asiknya lagi kalau camp disini adalah bener-bener ngerasain tenang dan sejuknya area pedesaan jauh dari bising dan polusi kota. Gimana ga asik bonusnya bisa mendengar gemericik air sungai dan mata disejukan oleh hijaunya pematang sawah. Di area camp ini juga ada kolam renangnya guys. Sumber airnya dari sumber mata air pegunungan dan tidak pakai kaporit. Dijamin betah deh!!! Untuk makan sendiri tidak perlu khawatir. Banyak warung yang menyediakan menu liwetan lengkap dan harga pun relatif murah. 

wujud Curug Nangka Bongkok.


Curug Ciangin, Karena habis hujan warna airnya jadi cokelat. huhu



kalo lagi ngecamp mandinya enak banget di sungai begini nih

Rute Menuju Curug Ciangin

Untuk menuju curug Ciangin sebenernya cukup mudah. Mbah google maps saya rasa sudah cukup jelas mengarahkan lokasi kesana. Jalurnya pun sudah cukup bagus meskipun ada beberapa titik yang agak berkerikil dan cukup licin jika hujan tiba. Dari Subang kota sebelum Ciater highland resort dan Alfamart sebelah kiri ada gang tinggal mengikuti saja jalan gang tersebut (dengan bantuan google maps tentunya). Kira-kira 15 menit kita akan sampai disana. 

Air Terjun Curug Ciangin
kp neglasari, Cibeusi, Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41281
https://maps.app.goo.gl/Vq1EQgKSdheRj8iMA



Harga Tiket Masuk dan CampGround

Untuk tiket masuk sendiri terbilang cukup murah yaitu 15ribu/orang. Parkiran motornya pun cukup aman dan harga tiket parkir dan menitip helm yakni 5rb/motor. Biaya lainnya adalah sebagai berikut : 

Detail Harga Wisata Curug Ciangin

Jangan khawatir disini pun tersedia Homestay/Penginapan jika kalian tidak ingin repot ngecamp. Untuk pricelist nya berikut ini yah guys :

Price List Homestay Curug Ciangin

Nah cukup sekian informasi dari Saya mengenai tempat wisata curug Ciangin. Ahh sepertinya saya akan lebih sering lagi mengexplore kota Subang. Penasaraaan cyiin dengan curug-curug lainnya haha.. So pantengin terus ya guys coretan saya ini. 


Salam tukik 💕









Warung Pinus : Kulineran sambil menyatu dengan alam

Berawal dari acara yang di adakan oleh komunitas Hammocker Jawa Barat di daerah subang untuk menjalin silaturahmi para member, berangkatlah saya dan kawan-kawan saya ke Warung Pinus ini. Warung Pinus adalah nama tempat makan yang terletak di daerah subang, yang mengusung tema menyatu dengan alam sebagai konsepnya. Sesuai dengan namanya, warung makan satu ini di kelilingi oleh pohon-pohon pinus di sekitarnya. Pas sekali rasanya jika komunitas Hammocker Jawa Barat mengadakan acara nge-gantung disini.

Untuk menuju kesini sangatlah mudah, lokasi nya berada di dekat wisata Capolaga Subang. Jika dari Jakarta bisa melawati jalur Wanayasa Purwakarta. Lokasinya merupakan jalur alternatif menuju Lembang,Bandung. Sehingga tepat rasanya jika menyempatkan diri untuk sekedar beristirahat dan mengisi perut di Warung ini. Perjalanan menuju sini pun sangat lah indah karena di dekat warung ini pun merupakan area pedesaan dan dekat sekali dengan perkebunan teh.


Menu yang ditawarkan pun cukup beragam, dari Mulai Soto, Nasi goreng, Nasi timbel, bahkan mie rebus pun ada disini. Cemilan nya waaaah cukup menggugah selera, seperti aneka roti bakar, pisang, dan kentang goreng. Menariknya lagi adalah platting yang di sajikan sehingga menambah selera untuk menyantapnya, dan harga yang ditawarkan pun cukup murah loh. Saat itu saya memesan semangkuk Mie rebus paket komplit dan segelas ice coffee milk.



Para penikmat kopi juga pasti seneng nih, soalnya warung ini pun menyediakan beberapa menu kopi mulai dari kopi tubruk,americano,espresso,vietnam drip sampai latte pun ada. Duuh kebayang dong mantab nya menikmati kopi ditengah rindangnya pohon pinus. Jadi tempat ini cukup worth it sekali untuk kalian datangi jika sedang berlibur di daerah Subang atau pun Lembang. Bonusnya lagi bisa untuk nambah feed Instagram kalian nih karena memang tempatnya cukup instagramable sekali. hohohoho.